Kematian
Ariel Sharon menyisakan kebahagiaan sekaligus kegetiran bagi warga
Palestina. Pasalnya, Sharon mati sebelum sempat diadili atas berbagai
kejahatan kriminal yang dilakukannya.
The Huffington Post mencatat
lima "angka keramat" yang menyimbolkan kejahatan perang Sharon.
Sebelumnya, kami telah menjabarkan dua bukti kejahatan perang Sharon,
berikut tiga lainnya:
700
Sabra dan
Shatila. Dua kata ini menambah daftar hitam rekam jejak Sharon. Saat itu
18 September 1982, Sharon menjabat Menteri Pertahanan. Ratusan, bahkan
ribuan, warga Palestina di dua kamp pengungsi di Lebanon itu dibantai
oleh kelompok militan Kristen sekutu Israel, Phalange.
Mereka
memasuki kamp itu atas sepengetahuan, restu dan persetujuan Sharon.
Mayat-mayat bergelimpangan di jalan-jalan. Tahun 1983, dalam
penyelidikan yang dipimpin mahkamah agung Israel, Yitzhak Kahan, Sharon
dianggap bertanggung jawab atas pembantaian tersebut.
Kantor berita
Al Ahram
melaporkan tahun 2001 lalu, "jumlah korban bervariasi antara
penghitungan Israel, yaitu 700 orang, dan sumber independen mengatakan
bahwa korban mencapai 3.500 orang".
Sharon dicopot dari posisi menhan, tapi dia tidak pernah diadili atas kasus itu.
Media Barat seakan melupakan peristiwa ini. Salah satunya adalah
BBC Minggu
pagi kemarin yang membuat obituari Sharon. Peristiwa Sabra dan Shatila
sama sekali tidak disinggung, apalagi vonis bersalah dari Kahan.
240Menurut
organisasi HAM Israel B'Tselem, sedikitnya 240 warga Palestina terbunuh
oleh IDF antara Maret dan Mei 2002 saat negara zionis tersebut
melakukan "Operasi Tameng Pertahanan" ketika berlangsung Intifada Kedua.
Operasi ini digagas Sharon untuk menginvasi Tepi Barat dengan
menjatuhkan bom udara di kota-kota dan desa di Palestina.
Lembaga
Human Right Watch (HRW) mengatakan, di antara korban tewas adalah 22
warga sipil dalam peristiwa yang dikenal dengan nama "Pembantaian
Jenin". Saat itu, IDF menyerbu kamp pengungsi Jenin di Tepi Barat.
"Di
antara warga sipil yang tewas adalah Kamal Zgheir, pria 57 tahun yang
berkursi roda, ditembak dan dilindas tank di jalanan luar kamp pada 10
April, padahal ada bendera putih yang ditempelkan di kursi rodanya.
Korban lainnya adalah Marian Wishani, 58, terbunuh oleh rudak di
rumahnya pada 6 April selang beberapa jam setelah putranya yang tidak
bersenjata ditembak di jalan," tulis laporan HRW.
"Jamal Fayid,
37, pria lumpuh yang tewas saat rumahnya dihancurkan pada 7 April,
padahal keluarganya telah memohon untuk mengeluarkan Jamal terlebih dulu
sebelum rumah itu dirobohkan," lanjut HRW lagi.
Ahli sosiologi
dari Hebrew University of Jerusalem, Baruch Kimmerling, menamai strategi
pembantaian Sharon itu sebagai "Politicide".
"Cara yang bertahap
tapi sistematis untuk menyebabkan pemusnahan (etnis Palestina) sebagai
sebuah entitas sosial dan politik yang merdeka," kata Kimmerling.
73.000Sharon
dipuji dalam berbagai obituarinya karena menarik pasukan Israel dan
melucuti permukiman Yahudi ilegal dari Gaza tahun 2005. Namun tidak
banyak yang tahu bahwa permukim Yahudi di Gaza dipindahkan ke Tepi Barat
dan Yerusalem, wilayah yang dicaplok Israel.
"Jumlah permukim di
Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur dan Dataran Tinggi Golan,
meningkat dari 388.000 menjadi 461.000, atau bertambah 73.000," tulis
catatan HRW.
HRW mengatakan, pemindahan warga sipil oleh penjajah
ke wilayah yang diduduki adalah pelanggaran dari Konvensi Jenewa, dan
masuk dalam kategori kejahatan perang.
Langkah Sharon ini sesuai
dengan jargon yang lantang diucapkannya tahun 1998 lalu kepada permukim
Tepi Barat saat menjabat menteri luar negeri Israel:
"Caplok sebanyak mungkin
bukit, perluas wilayah. Semua yang kita renggut akan ada di genggaman
kita, semua yang tidak kita ambil ada di tangan Palestina."